“Aia tibo-tibo se. Awak manaikan barang ka ateh, dek aia lah naik. Tambah naik balik mode adoh galombang sampai ka lihia, tu kalua rumah salamaikan diri, ndak adoh baok apo-apo. Pas kalua adoh kayu gadang tabaok banjir. (Air tiba-tiba saja datang. Saat itu, saya tengah menaikan barang. Debit air tambah naik seperti ada gelombang-gelombang hingga ke leher, sehingga ke luar rumah menyelamatkan diri dan tidak membawa apapun. Ketika di luar rumah menyelamatkan diri ada kayu besar yang melanda rumah),” katanya.
Menurutnya, debit air mulai tambah naik sekitar pukul 20.00 WIB. Awalnya ada keretakan pada dinding sekitar pukul 23.00 WIB, dan menyelamatkan diri di daerah perbukitan tempat saudara. Ia mengakui, sebelumnya banjir juga pernah terjadi namun tidak separah ini. Banjir bandang kali ini merupakan yang pertama kalinya terjadi, begitu juga dengan Kampung Langgai dan tidak pernah terjadi longsor, entah dari mana datangnya batu dan kayu tersebut.
Rya dan keluarga paginya baru pulang ke rumah dan ternyata semua sudah rata dengan tanah termasuk dua rumah lainnya. Hanya ada satu rumah yang berdiri namun sebagiannya roboh yang juga merupakan rumah saudaranya. Namun, duka tak berhenti disitu, Jumat malam barulah ada masyarakat yang mengabari kalau suaminya di Kampung Langgai jadi korban longsor. Suaminya, Isum (25), dan keluarga suaminya, Fajra (29), Mira (24), Hafip (1), Fifi (24), dan Siir (45) ditemukan berpelukan. Sabtu pagi baru dirinya pergi ke Kampung Langgai untuk melihat kebenarannya.
Wanita berusia 24 tahun itu terpukul atas kepergian itu dan ia tak kuasa melihat sosok mereka yang membujur kaku saat ditemukan warga setempat, dan dalam keadaan saling berpelukan. Saat jenazah mereka diberangkatkan ke tempat pemakaman setempat, dirinya tak kuasa menatap keluarganya yang sudah tiada. Apalagi, rumah tempat tinggal memadu kasih di Kampung Ampalu juga roboh akibat banjir bandang.
Suami dan lima orang keluarga suaminya ditemukan tertimbun tanah pada Sabtu 9 Maret 2024, atau dua hari setelah usai hujan lebat, banjir dan longsor yang melanda di Kabupaten Pesisir Selatan. “Mandapek kaba, ndak tantu apo yang kadisabuik lai doh mancalik suami ndak adoh. Dapek kaba lah bisuk harinyo. (Tak kuasa mendengar kabar, dan melihat suami, mertua dan keluarga suami tidak ada lagi. Saya dapat kabar dari masyarakat keesokan harinya),” ujar Rya.
Rya ketika ditanya masih terlihat kebingungan dengan air mata yang berkaca-kaca ketika mengenang kejadian itu. Ia merasa gelap semua pandangan dan serasa hidup sudah tidak ada artinya lagi. Namun, ia tetap harus kuat dan semangat menjalani kehidupan sembari memasrahkan diri kepada Tuhan demi si buah hatinya.





