KABA RANAH

Disparbud Apresiasi Mamancuang Kalan Komunitas Lega Carano

0
×

Disparbud Apresiasi Mamancuang Kalan Komunitas Lega Carano

Sebarkan artikel ini
Komunitas Seni dan Budaya Lega Carano Nagari Supayang Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok menggelar prosesi Mamancuang Kalan dalam penerimaan murid baru di di Jorong Tiagan.
Komunitas Seni dan Budaya Lega Carano Nagari Supayang Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok menggelar prosesi Mamancuang Kalan dalam penerimaan murid baru di di Jorong Tiagan.

PADANG, HARIANHALUAN.ID– Komunitas Seni dan Budaya Lega Carano Nagari Supayang Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok menggelar prosesi Mamancuang Kalan dalam penerimaan murid baru di di Jorong Tiagan.

Kegiatan ini diawali sejak pagi hari dengan pemotongan ayam calon murid oleh guru tuo dilanjutkan dengan pemanjatan doa. Turut hadir Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok yang diwakili oleh Kabid kebudayaan, serta wali nagari supayang, Ketua KAN Supayang dan niniak mamak, alim ulama

Baca Juga  Sumbar Butuh 540 Ton Garam Tiap Bulan: 100 Ton Lebih Dipasok oleh PT Garam

Komunitas Seni Budaya Lega Carano  menjadi wadah bagi anak nagari untuk belajar pidato pasambahan adat, tari piring, silek. Murid komunitas Lega Carano  juga sering tampil di beberapa iven kebudayaan.

Wali Nagari Supayang Darmansyah mendukung segala kegiatan kebudayaan oleh masyarakat, termasuk melalui komunitas tersebut. Apalagi, Nagari Supayang punya aliran silek yang khas.

“Semoga ini bisa melahirkan dan membentuk karakter generasi muda untuk arah yang positif ditengah modernisasi saat ini,” ujarnya.

Sementara itu kepala bidang kebudayaan Irman menyampaikan  apresiasi kepada komunitas Seni Budaya Lega Carano yang telah ikut serta berperan dalam pelestarian tradisi.

Baca Juga  Sambut Ramadan, Warga Nagari Aua Adakan Berbagai Lomba Keagamaan

“Seni tradisi. tidak hanya sekadar hiburan atau pengisi waktu senggang, tetapi juga memiliki nilai-nilai dan makna yang sangat dalam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seni budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di nagari-nagari, dan menjadi cermin dari sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang sarat dengan makna. (*)