“Bapak pergi kerja di pagi hari dan pulang di senja hari. Paginya membawa jualan, pulangnya membawa ikan. Ikan yang didapat kami jual untuk memenuhi kebutuhan hidup,” kata Mak Erna, panggilan sehari-hari Ernawilis.
Pun kata adiknya, Liswarti, gaji Mandua Dula tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bapaknya selalu menyembarikan cara lain untuk mencari uang. Di pagi hari jualan akan dijajalkan pada penumpang kereta api, dan selepas senja memancing ikan untuk dijual atau dimakan.
“Perasaian itu kami rasakan, seperti Dendang Kureta yang kami dendangkan ini. Bukannya mengingat kenangan indah atau bernostalgia, tapi mengingat kesunyian, perasaian, dan kesedihan hidup yang pernah kami jalani bersama bapak,” kata Liswarti.
Ernawilis dan Liswarti kadang selalu mengikuti bapaknya bekerja. Bermain di stasiun kecil kelas III melihat pekik peluit dari kejauhan, gemuruh suara yang datang pagi dan sore hari, serta arang-arang yang diangkut beserta beberapa penumpang. Itulah kereta api yang selalu singgah, menyinggahkan cerita batu bara Ombilin.
Kereta api pengangkut batu bara ini selalu menyediakan satu gerbong untuk penumpang. Dan ini selalu ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang ingin naik kereta api untuk pergi berdagang atau suatu urusan. Ini pula yang agaknya stasiun selalu ramai dan disenangi Ernawilis dan Liswarti ketika menikmati masa kecil di stasiun.
Di jalur Stasiun Padang Sibusuk, kereta api selalu singgah dua kali sehari. Persinggahan itu terjadi di pagi dan sore hari. Namun terkadang juga tersendat-sendat. Kereta api pun kadang berlalu lalang dua kali seminggu.
Dan Stasiun Padang Sibusuk juga menjadi saksi, tentang cerita bapak Ernawilis dan Liswarti yang si Mandua Dula itu, yang pernah mengalami peristiwa peperangan di tahun 1950-an. Ernawilis dan Liswarti mengingat betul cerita bapaknya yang harus terpontang-panting menyelamatkan diri dari bunyi tembakan. Mungkin saja, peristiwa itu bagian dari peristiwa Peri-peri atau PRRI 1958.
Sekilas di luar memori mereka, Nagari Padang Sibusuk juga menjadi tempat bergejolaknya peristiwa Pemberontakan Silungkang yang terjadi di tahun 1926-1927. Perlawanan yang dilakoni Sarekat Rakyat (termasuk orang-orang Padang Sibusuk) melakukan perlawanan-perlawanan kepada penjajah. Sampai pelaku perlawanan ditahan dan dibuang ke tempat yang jauh, seperti di Boven Digoel (Papua). Sehingga pelaku perlawanan Sarekat Rakyat itu akhirnya diangkat Presiden Soekarno sebagai perintis kemerdekaan.





